Mengejar Impian Kartini hingga ke Pelosok Desa, Dari Gelap Menuju Cahaya

21 04 2009

Perempuan yang termarginalkan secara sosial menjadi akar keprihatinan RA Kartini pada masanya, beliau merintis pengajaran yang memberi ruang bagi perempuan untuk bisa mengenyam pendidikan dan pengetahuan. Di beranda rumahnya RA Kartini memulai dan mempelopori home schooling untuk mengentaskan kaumnya dari keterbelakangan yang akut dengan mengajarkan menulis, membaca dan keterampilan hidup (life skill).

Impian kartini untuk memajukan kaumnya kini telah menampak hasilnya, sekarang kaum perempuan telah mampu menggapai impian tertingginya dalam pendidikan dan karir tanpa mengesampingkan kodratnya.

Ditengah gemuruh kemajuan wanita indonesia kita tidak boleh membelakangi kenyataan betapa nun jauh di pelosok – pelosok desa termasuk di Lumajang tercinta, masih terdapat kaum-kaum wanita yang berada dalam lingkaran keterbelakangan. Masih banyak perempuan yang karena realitas sosialnya harus rela mengesampingkan pendidikan, mereka tidak hanya putus sekolah bahkan sebagian justru samasekali tidak pernah mengenyam bangku pendidikan dan menjadi buta aksara / buta huruf.

Selama beberapa malam saya melihat dari dekat fenomena ini, dari beberapa desa pelosok yang berhasil dijangkau seperti drandangan, wonomerto lor dan kidul, timur sawah dan lain-lain terdapat kelompok – kelompok warga yang tengah berjuang untuk bisa terbebas dari buta aksara, sebagian besar diantaranya memang adalah kaum perempuan. Dan jujur kita harus mengakui beberapa kelompok yang sejauh ini bisa tersentuh langsung oleh program pengentasan wajar dikdas hanyalah sepersekian persen saja dari prosentase penderita buta aksara yang sesungguhnya.

Pendek kata, impian dan cita-cita RA Kartini harus dilanjutkan, dan saat ini masih terbentang sebuah tantangan untuk mengejar Impian Kartini hingga ke Pelosok Desa, Insyaallah inilah upaya nyata yang harus dikembangkan agar masyarakat kita bisa segera berubah dari Gelap Menuju Cahaya…Wallahu A’lam

Iklan




Kurangnya Greget Promosi Wisata Lumajang

24 03 2009

Lumajang sebagai kota yang kaya dengan daya tarik wisata tidak perlu disangsikan, mulai dari wisata alam, wisata religi, wisata budaya hingga wisata sejarah semuanya secara lengkap Lumajang punya. Ditunjang dengan icon semeru dan icon komoditas unggulan pertanian utamanya pisang dan kopi seharusnya lumajang mampu menarik lebih banyak turis dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung tapi pada kenyataannya tidaklah demikian, parawisata lumajang seolah jalan di tempat.
focus
Lumajang sepertinya perlu belajar dari tetangga kota yakni Kabupaten Jember, meski dengan potensi wisata yang terbatas Kabupaten Jember ternyata berani menggulirkan program Tahun Kunjungan Wisata Jember, Bulan Berkunjung ke Jember, dll keseriusan Pemkab Jember dalam mendukung program ini terlihat nyata dari poster-poster dan baliho yang terpampang di sepanjang jalan-jalan utama kabupaten

Menakar Keberanian dari Para Pengambil Kebijakan
Keberanian Pemerintah Daerah perlu diuji dan pembenahan akomodasi (hotel, restoran dan jasa transportasi) masih menjadi kunci yang perlu serius di garap dan dibenahi, kenyataan hari ini jalur transportasi di lumajang utamanya akses dari terminal minak koncar ke pusat kota masih “amburadul” apalagi saat malam hari, kebanyakan masih mengandalkan bus Lumajang – Malang (Via Dampit) atau bus Lumajang – Jember (Via Kencong), lantas bagaimana dengan nasib mikrolet atau angkot ?! kenyataannya sebagian besar diantara kita masih awam dengan sarana transportasi ini selain jalurnya yang tidak tetap (tidak menentu) kadang besaran tarifnya juga demikian. Pendek kata Transportasi Umum masih menjadi kendala dasar jika Lumajang ingin menjadi kota yang asyik dan bersahabat untuk dikunjungi oleh siapapun untuk tujuan apapun

Bagaimana seharusnya kita menyikapi hal ini ?!?! welcome welcome

Topik Diskusi di Forum Lumajang Online :
http://lumajang-online.com/forum/index.php?topic=938.0





Stop ! Pornoaksi Yang Merebak Dalam Balutan Hari Valentine

11 02 2009

Bismillahirrahmanirrahim,

Euphoria hampir dipastikan bakal kembali mengguncang dunia, jutaan manusia tak terkecuali di negeri ini bersiap memperingati medio februari yang sarat kontroversi, sayangnya banyak yang sebatas ikut-ikutan tanpa pernah tahu dan peduli tentang “sisi negatif” valentine day yang telah di salah tafsirkan sebagai perayaan hari kasih sayang.

Di Barat Valentine Day menjadi hari raya ketiga setelah Natal dan Tahun Baru, kehadirannya yang memiliki muatan dan makna religius bagi kaum kristiani seharusnya disadari oleh sebagian kalangan generasi muda Islam bahwa kebiasaan untuk memperingati dan merayakan valentine day harus dikaji ulang, di koreksi dan dipahami sebagai tindakan salah adaptasi dan salah adopsi.
Penelusuran lebih lanjut mengapa valentine day bisa menyebar hingga ke seluruh belahan dunia akan membawa kita pada skenario bisnis gerakan kapitalis yang sengaja gencar melakukan promosi atas nama hari kasih sayang demi meraup keuntungan bisnis yang luar biasa besar dengan membidik secara khusus segmen kaum muda di seluruh dunia.
Tentu saja valentine day menjadi moment yang paling menguntungkan bagi pengusaha kartu ucapan, pengusaha bunga, pengusaha hotel, pengusaha aksesoris dan sejenisnya, Jadi jangan buru – buru terperangah apalagi tergoda dengan moment valentine day yang senantiasa tampil meriah.

Pornoaksi terselubung
Bagi kalangan muda, Hari Valentine cenderung ditafsirkan secara sempit sebagai moment penting untuk menjalin hubungan muda – mudi yang serius bukan lagi ungkapan kasih sayang yang tulus dan universal tanpa melibatkan kontak fisik, Kebanyakan generasi muda utamanya di negara – negara barat merayakan valentine dengan sebuah janji kencan yang sering di akhiri dengan kontak fisik dan perzinahan, Naudzubillah.

Dalam budaya masyarakat barat yang toleran dan terbuka terhadap perilaku seks bebas, perayaan valentine diwarnai dengan kencan pasangan – pasangan muda sepanjang malam itu, bahkan beberapa tempat dan hotel sengaja menggelar aneka acara yang berakhir dengan pesta – pesta kemaksiatan.
Sementara bagi generasi muda bangsa kita yang berbudaya ketimuran dan lebih khusus lagi bagi generasi muda Islam sudah sepatutnya bersiap membentengi diri dari virus pornoaksi yang terselubung dan tersamarkan dalam balutan perayaan valentine day.

Ketidakjelasan sejarah valentine day
Sebenarnya masih terdapat perbedaan versi dan beragam catatan mengenai akar sejarah valentine, jika dicermati ternyata tradisi ini mengadopsi pada kebiasaan masyarakat romawi kuno yang menganggap pertengahan bulan pebruari sebagai periode cinta dan kesuburan. Setiap tanggal 13-14 Februari para pendeta mengadakan ritual persembahan kepada dewa lupercus (sang dewa kesuburan) yang diakhiri dengan sebuah pesta atau perayaan Lupercalia pada tanggal 15 Februari sebagai puncaknya. Dalam berbagai literatur disebutkan pada hari itulah para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.
Pada tahun 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang secara kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.
Catatan mengenai pendeta yang bernama santo valentine itupun masih bias karena hingga saat ini berkembang banyak versi khususnya latar belakang sejarah vonis hukuman mati yang dijatuhkan oleh penguasa romawi saat itu.

Versi yang paling terkenal adalah titah Kaisar Claudius II berupa larangan bagi para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah karena menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Tindakan kaisar mendapat tentangan dari Santo Valentine yang secara diam – diam menikahkan banyak pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine yang dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M. Versi ini ternyata banyak ditentang oleh sebagian kalangan gereja yang tetap beranggapan bahwa Santo valentine di eksekusi karena berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak tradisi penyembahan atas tuhan – tuhan dan dewa – dewa orang Romawi.

Kesimpulannya, Valentine day memang dirayakan oleh gereja – gereja untuk menghapuskan tradisi paganisme kaum romawi kuno dan untuk mengganti persembahan kepada dewa lupercus dengan ritual valentine, namun yang mengejutkan sejak tahun 1969 terdapat gerakan untuk menghapus perayaan valentine dari kalender gereja khususnya untuk menghapus mitos dan legenda tentang santo dan santa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jika dari kalangan gereja sendiri muncul kesadaran untuk tidak merayakan valentine day mengapa generasi muda kita justru tidak mau belajar dari fakta ini ?!?!…

Kampanye anti valentine day
Atas dasar fakta diatas dan diatas landasan niat untuk membentengi akhlak generasi muda kita maka sudah sewajarnya setiap ummat Islam mengambil peran penting untuk turut mengkampanyekan gerakan anti valentine day dan secara khusus menyerukan kepada pemuda pemudi Islam untuk tidak terlibat dalam acara kasih sayang dan percintaan ala valentine’s day. Di sejumlah negara Islam belakangan ini muncul gerakan terbuka untuk menolak peringatan valentine day, di Mesir beberapa kalangan ummat Islam menyerukan untuk merubah Valentine’s Day dengan Muhammad Day. Seruan ini disampaikan di sejumlah situs internet baik website maupun blog. Mereka menyerukan pembenahan pemahaman cinta dengan pemahaman yang benar sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Seruan ‘Muhammad Day’ ini juga disebarkan secara meluas melalui pesan elektronik (e-mail) dan pesan singkat ponsel (sms). Gagasan Muhammad Day semata – mata bertujuan sebagai gerakan insidental kampanye anti valentine day yang otomatis tidak diagendakan untuk dilakukan setiap tahun.

Kampanye via sms
Siapapun bisa menjadi bagian dari gerakan anti valentine day dengan menyebarkan pernyataan singkat dibawah ini melalui pesan singkat (sms) :

“Stop Pornoaksi yang merebak dalam balutan valentine day, mari kita benahi pemahaman tentang cinta dan kasih sayang yang benar sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW”.


Akhirnya, berdasar fakta negatif dan nuansa pornoaksi yang terselubung dan merebak melalui peringatan hari valentine maka marilah kita secara bersama -sama satukan tekad “HAPUSKAN VALENTINE’S DAY SEKARANG JUGA !!!

Semoga Tulisan ini Bermanfaat…Wallahu A’lam





Lumajang Never Ending Beauty – Jelajah Wisata Lumajang

11 02 2009
Kabupaten Lumajang memiliki berbagai macam obyek wisata dengan panorama alam yang memukau dan masih alami. Keindahan pegunungan, pantai, danau serta obyek wisata lainnya bisa didapatkan di Lumajang. Berikut sebagian obyek wisata yang ada di Lumajang :

Selokambang
 Pemandian Alam Selokambang ( sumber air bukan PDAM) terletak di Desa Purwosono Kecamatan Sumbersoko, jarak tempuh dari kota Lumajang ± 7 Km kearah Barat ± 15 menit perjalanan dapat ditempuh segala macam kendaraan. Merupakan obyek wisata andalan yang dipercaya masyarakat, bahwa mandi di pemandian tersebut dapat menyembuhkan penyakit reumatik.
Aktivitas yang dapat dilakukan selain olah raga renang, juga dapat menikmati sarana permainan anak, berperahu, sepeda air, olah raga tennis.
Berbagai macam kedai yang menjanjikan makanan tradisional siap untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga disamping itu ditunjang areal parkir yang cukup luas dan representatif

Ranu Klakah
Obyek wisata danau ini terletak di sebelah Utara kota Lumajang tepatnya di Desa Tegalrandu Kecamatan Klakah  dengan jarak tempuh ± 20 Km dari kota Lumajang. Transportasi, mudah dicapai dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum baik roda dua maupun roda empat disamping ada dokar sebagai sarana angkutan tradisional masyarakat setempat.
Obyek ini berada pada ketinggian ± 900 meter dpl, dengan luas 22 hektar dan kedalaman 28 m yang dilatar belakangi gunung Lamongan dengan ketinggian ± 1.668 m dpl, serta didukung oleh udara yang sejuk dan segar. Beraneka ragamnya buah-buahan nangka khas Klakah yang dijual sepanjang jalan raya menjadi daya tarik lain bagi obyek wisata ini.
Panorama yang khas berupa fatamorgana kebiruan air obyek wisata ini merupakan alternatif pilihan tujuan wisata di Jawa Timur bila mengunjungi Bali melewati Kabupaten Jember. Danau ini merupakan salah satu obyek wisata dari Kawasan Wisata Setiga Ranu ( danau ) sedangkan lainnya adalah Ranu Pakis dan Ranu Bedali, yang satu sama lain terhubung oleh jalan yang dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Disamping menikmati panoramanya, aktivitas yang dapat dilakukan sendiri ataupun bersama keluarga antara lain, joging mengelilingi area danau dengan fasilitas jalan beraspal, berperahu, menikmati sarana permainan anak, berolahraga tennis dan memancing. di Ranu Klakah tersedia sarana Hotel untuk menginap dengan jumlah kamar 6 buah.

Ranu Pakis
Sekitar 10 menit dengan berkendaraan roda dua ataupun roda empat sampailah kita ke Ranu Pakis, bila  kunjungan wisata kita diawali dari Ranu Klakah. Obyek wisata danau ini terletak di Desa Ranu Pakis dengan jarak ± 20,5 Km disebelah Utara kota Lumajang ,mempunyai ketinggian ± 600 Meter, dari permukaan laut dengan luas danau 50 Ha dan kedalaman 26 m. Masih dilatar belakangi Gunung Lamongan dan nampak lebih dekat, serta kondisi alam yang masih perawan akan menjadi daya tarik bagi pecinta lingkungan atau wisatawan yang membutuhkan udara segar.
Selain rekreasi dapat pula menikmati ikan segar yang dijual di warung-warung sederhana dan dapat pula dibawa untuk oleh-oleh. Ikan ini hasil budi daya pada perairan Ranu Pakis dengan sistim keramba jaring apung, jenisnya Mujaher, Nila.

Ranu Bedali
Sebagai rangkaian kawasan Segitiga Ranu, dengan jarak 7 Km dari Ranu Pakis atau 6 Km dari Ranu Klakah kita  sampai pada Ranu Bedali Kecamatan Ranuyoso. Obyek wisata ini mempunyai ketinggian ± 700 M dari permukaan laut dengan luas danau 25 Ha dan kedalaman 28 m.
Berbeda dari dua ranu sebelumnya, yang menarik dari ranu ini adalah letak permukaan air berada jauh di bawah permukaan tanah. Sehingga untuk mencapai daratan tepi danau dibutuhkan kesehatan prima yang merupakan tantangan bagi mereka yang berjiwa muda. Meskipun demikian panorama danau ini dilihat dari atas cukup mengasyikkan.


Watu Godeg
 Kecamatan Tempursari sebagai wilayah Kabupaten Lumajang di ujung selatan mempunyai obyek wisata Pantai Watu Godeg yang terletak di Desa Bulurejo dengan jarak ± 8 Km dari Kecamatan Tempursari kearah Selatan atau sekitar ± 80 km dari Kota Lumajang. Dengan adanya jalan tembus Pasirian -Tempursari jaraknya dapat diperpendek menjadi ± 12 Km dari Kecamatan Pasirian.
Panorama dipantai ini sangat indah, pemandangan laut lepas dengan latar belakang bukit serta ditunjang dengan batu besar dipantai bila terkena ombak seperti bergoyang, Godeg (geleng kepala).

Gunung Semeru
Puncak Mahameru mempunyai ketinggian ± 3.676 m diatas permukaan laut dengan kawah Jonggring Saloko  dipuncaknya, adalah obyek wisata bagi penghobi pendaki dengan kondisi alam yang menantang. Di Puncak Mahameru pada hari besar nasional atau setiap tanggal 17 Agustus dan 10 November dijadikan tempet upacara oleh para pendaki dari berbagai penjuru nusantara didunia sambil menikmati panorama matahari terbit dan panorama matahari tenggelam dari puncak gunung tertinggi di pulau Jawa ini, sebelum mencapai puncak Semeru / Mahameru terdapat hamparan rumput atau safana yang luas dengan kabut tebalnya yang sangat indah
Sisi lain daya tarik dari paket ini adalah masyarakat Ranupani yang khas, baik ditinjau dari sudut sosial budaya, Agama,kehidupan sehari – hari, sehingga tejaga keasliannya tanpa terkena akulturasi budaya dll.


Goa Tetes
 Goa Tetes merupakan wisata goa yang didalamnya terdapat stalagtit dan stalagmit dengan warna yang beraneka ragam.
Terletak di desa Sidomulyo Kecamatan Pronojiwo jarak tempuh dari kota Lumajang ± 55 Km ke sebelah Selatan, mudah dicapai dengan kendaraan roda dua / empat, satu jalur dengan obyek wisata Piket Nol, selanjutnya perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuruni tangga sepanjang ± 3 Km untuk sampai ke mulut goa, dengan medan yang cukup menantang.
Banyak dikunjungi oleh muda mudi dan dipercaya masyarakat dapat mempersatukan kembali keretakan rumah tangga.

Kolam Renang Prestasi
Obyek wisata / sarana rekreasi / sarana olahraga yang terletak dijalan. veteran Lumajang ini mudah dijangkau dengan angkutan umum maupun pribadi yang menyediakan sarana kolam dewasa dan kolam anak-anak dengan harga tiket masuk yang cukup terjangkau.
Fasilitas sebagai kolam renang prestasi cukup mendukung terhadap obyek ini, juga tersedia rumah makan berikut areal parkir kendaraan roda dua / empat.

Water Park
 Kolam renang dewasa dan anak terbaru di Lumajang yang terletak di Kawasan Wonorejo Terpadu (KWT) Desa Wonorejo Kecamatan Kedungjajang, jarak tempuh dari kota Lumajang ± 7 Km kearah Utara ± 15 menit perjalanan dapat ditempuh segala macam kendaraan. Merupakan obyek wisata air yang dilengkapi dengan arus air, sarana luncuran dan sarana lain yang menarik bagi yang gemar bermain diair. Obyek wisata baru ini selain menjanjikan kesehatan dan kebersihan air serta keindahan lokasinya juga merupakan lokasi yang srategis, terletak pada jalur Probolinggo Bali lewat Jember
Selain Kolam Renang aktivitas lain yang dapat dinikmati oleh pengunjung adalah, menikmati sarana kereta gantung, komedi putar serta fasilitas bom-bom car. Lokasi wisata ini berdekatan dengan Terminal Menak Koncar Lumajang yang merupakan terminal angkutan umum antar kota, tentunya menjanjikan kemudahan bagi pengunjung yang hendak kesana

Pantai Tlepuk
 Pantai dengan panorama indah dan deburan ombak yang menakjubkan memiliki rawa yang sangat ideal untuk tempat pemancingan. Tempat ini mudah dijangkau terletak di kecamatan pasirian sekitar 31 km arah selatan kota Lumajang.

Pantai Watu Pecak
 Di desa Selok Awar-awar Kecamatan Pasirian ± 18 Km dari kota Lumajang kearah Selatan dengan jarak tempuh ± 35 menit dari Kecamatan Pasirian, terdapat obyek wisata Pantai Watu Pecak yang berada sebelah Timur Pantai Bambang.
Seperti Pantai Bambang, Pantai Watu Pecak merupakan obyek wisata Pantai Selatan dengan ciri ombak besar dan dipergunakan sebagai tempat upacara Melasti / sesuci bumi umat Hindu Dharma Bali.

Air Terjun Manggisan

Merupakan obyek wisata petualangan yang memiliki ketinggian ± 100 meter, untuk mencapai lokasi ditempuh dengan berjalan kaki selama ± 1 jam. di dekat air terjun manggisan juga terdapat air terjun yang ketinggiannya ± 20 meter merupakan sumber air yang jernih. walaupun medan yang dilalui berliku-liku namun pemandangannya yang indah dan keasliannya merupakan daya tarik tersendiri.

Sumber : (mia http://suarakomunitas.combine.or.id)





Cerpen : Tanah Garapan – Tanah Harapan

11 02 2009


 

Akhirnya jadi juga mas lukman pergi meninggalkan kampung ini. tak jelas dimana dia kini berada namun perasaan kehilangan sangat kuat kurasakan, lecutan semangat yang kerap disuarakannya serasa mampu memulihkan lagi tekad dan harapanku untuk mengelola sendiri lahanku menjadi lebih baik, menghasilkan serta menjanjikan.

Mas lukman sudah seperti seorang sahabat bagi kami meski pertemanan kami sebatas hari – hari yang sama kami lalui di sebuah “gubuk derita” di tengah hamparan ladang yang semula hanya ditumbuhi ilalang. Kini ladangku mulai menghijau meski sejauh mata memandang masih nampak beberapa bagian yang ditumbuhi ilalang dan rerumputan liar.

Kebiasaan menyinggahi “gubuk derita” pada mulanya menjadi aktifitas alternatif kami, disanalah kami biasa berkumpul, disatukan oleh kesamaan nasib, menggali sebuah mimpi yang memanggil untuk berubah, mulai dari mimpi-mimpi yang sederhana sampai mimpi yang setengah “gila”, salah satunya tercermin dari celotehan iwan fals yang sering sekali ditirukan nasir.

Penguasa …penguasa berilah hambamu uang…beri hamba uang” .

” Mencari pekerjaan sekarang juga butuh modal, butuh uang…lagi – lagi uang ?!?!” celetuk adi spontan. Adi yang dulu bintang pelajar sekarang telah bergelar S.Pd, sebuah titel yang seringkali diplesetkan sebagai ‘sarjana penuh derita’.

“Klop sudah, sarjana penuh derita tinggal di dalam istana gubuk derita”, itulah komentar yang seringkali dilontarkan sugeng, ekonom muda lulusan perguruan tinggi terkemuka yang berharap bisa berbuat banyak untuk tanah kelahirannya namun belum tahu harus memulai dari mana.



Pada suatu malam Adi datang dengan menenteng sebuah gitar. Kami bertiga mulai menduga-duga “gerangan apalagi yang bakal dipertontonkan adi di depan kami”

gitar tua yang bertuah” katanya seraya membuka catatan berisi notasi lagu-lagu baru,.

“Sama sekali tidak kelihatan seperti satria bergitar”, celetuk sugeng

” Pantasnya sih disebut penyanyi “ndesit” bersuara gemetar”, sahut nasir

Adi kemudian menyanyikan beberapa tembang Ebiet G Ade, kegalauan hatinya menampak jelas dari bait-bait syair yang disuarakannya.

Saat sampai “tanyakan saja pada rumput yang bergoyang” tiba – tiba senar gitar adi putus, seketika ia beringsut turun dan meletakkan gitar tuanya itu tepat ditengah sebuah pematang tidak jauh dari gubuk, “Gitar tua tak berguna, biar saja diambil orang”. Katanya dengan nada kesal

Tak lama kemudian tanpa kami sadari sebuah lampu senter berkilat – kilat mendekati tempat kami namun kami acuhkan begitu saja sampai keesokan harinya kami mendapati gitar tua itu benar – benar telah lenyap. Beberapa hari kemudian seorang yang mengaku bernama lukman mengantarkan gitar tua itu.

saya biasanya tidak pernah lewat jalan ini tapi entah mengapa tiba-tiba terbersit keinginan untuk lewat jalan ini, padahal kan lebih jauh dan gelap”.

“Rupanya Tuhan sengaja menggerakkan saya untuk mengambil gitar itu … Tuhan pula yang menggerakkan saya untuk menyambung senarnya dan mengantarnya kembali ke gubuk ini. Jadi pertemuan ini bukan semata suatu kebetulan melainkan telah digariskan oleh yang Maha Kuasa.



Harus bergembira ataukah sebaliknya ? Entahlah… yang jelas anggota kami yang semula empat orang kini bertambah seorang lagi menjadi lima sekawan.

Tanpa kami sadari suasana gubuk kesayangan kami tak seperti dulu lagi, ungkapan – ungkapan mas lukman selalu saja mengejutkan, apa yang diucapkannya terkadang sungguh menarik namun adakalanya terkesan disengaja untuk menyudutkan kami.

Menurut mas lukman “mana mungkin seorang yang hanya duduk diam disebuah gubuk bisa merubah dunia, merubah kehidupannya sendiri saja belum tentu bisa,”

mana mungkin orang yang tidak kreatif dan tidak produktif akan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya, bisa saja itu terjadi namun bukan saat ini dikehidupan nyata melainkan dalam dongeng – dongeng klasik”.

Adakalanya mas lukman berusaha keras membangkitkan semangat kami namun terkadang pernyataan-pernyataannya justru menjadikan kami merasa serba salah dan tidak berguna , namun mas lukman memang pandai dalam bertutur kata sehingga tahu kapan harus melunak disaat telinga kami mulai memerah.

Demikianlah, setiap berangkat dan pulang dari mencari cacing, belut, bekicot dan entah apalagi mas lukman kini selalu menyinggahi gubuk kami, bahkan kini teman-teman mulai terbiasa mendengarkan sesuatu yang berbeda darinya.

Suatu saat mas lukman bercerita tentang kesengsaraan yang begitu rupa dialami bangsa barat akibat kekuasaan raja-raja yang sewenang-wenang.

saat agama hanya jadi alat kekuasaan maka kehidupan menjadi benar-benar gelap”

Hal ini terjadi di eropa pada abad pertengahan yang terkenal sebagai “The Dark middle age”, Abad pertengahan yang sungguh teramat gelap.

ada sebagian orang yang melihat kegelapan dari sisi yang lain, mereka merasa masih ada sisi dunia lain yang lebih terang dan lebih menjanjikan”.

“Merekapun berlomba-lomba mencari tanah baru demi untuk menggubah sejarah”

“Mereka berjuang dengan gigih melalui beberapa kali pelayaran samudera melintasi mancanegara”, Dan … kini kita harus berkiblat ke barat untuk mengukur sebuah kemajuan, barat yang sama yang pada mulanya berada dalam kegelapan panjang yang nyata.

cobalah kita senantiasa belajar dari lembaran paling suram dalam sejarah”

bayangkanlah andaikata kita hidup didalamnya”

Dan pikirkan bagaimana kita hendak mengubah keadaan kita sekarang ini.

maka mulai dari sekarang, sisakan semangat untuk terus berjuang …”

“Jangan kita menjadi orang yang gagal sebelum sempat berbuat sesuatu”

Gubuk derita kami ibarat penjara setelah mas lukman banyak menggambarkan tentang dahsyatnya tantangan kehidupan dimasa mendatang, sementara kami yang terkurung didalamnya tak ubahnya seperti katak dalam tempurung.

Perlahan – lahan anggota kami berkurang satu persatu, sugeng memulai usaha kecilnya sebagai produsen kripik singkong, nasir buka usaha cuci sepeda motor , adi yang sarjana penuh derita kabarnya telah diterima sebagai tenaga honorer di sekolah swasta, sementara aku sendiri tetap menghabiskan kebanyakan waktuku digubug sambil memperhatikan perkembangan tanaman rosella merahku yang kutanam untuk pertama kalinya.

Awalnya mas lukmanlah yang mengenalkan tanaman rosella merah, dia menyebut rosella merah sebagai tanaman obat yang mudah ditanam serta mudah diolah menjadi sirup dan minuman segar.

Ketika aku membutuhkan benih rosella merah mas lukman memberiku sebuah alamat, dari sang pemilik benih rosella merah itulah aku akhirnya mengetahui apa yang sebelumnya tak kuketahui jika mas lukman itu sebenarnya adalah seorang sarjana pertanian…

Sore itu ketika aku bertemu mas lukman dia mengutarakan keinginannya untuk pergi jauh untuk sebuah cita – cita.

“Lalu bagaimana dengan yang selama ini mas usahakan”, tanyaku mencari tahu. “Menggarap ladang ternyata tidak semudah teori yang saya pelajari selama ini, kini saya telah mendapatkan pengalaman teori dan praktek yang saya yakini kelak akan menjadi bekal yang sangat berguna”.

“Kata – kata mas lukman menyiratkan betapa besar keinginannya untuk mewujudkan obsesi – obsesinya.

“Apa yang selama ini sangat ingin mas lakukan ?…lanjutku penasaran.

saya hanya seorang sarjana miskin yang tak punya lahan sendiri, selama ini saya menggarap lahan paman, itu sebagai tanda bakti saya atas jasa beliau yang telah dengan ikhlas membiayai kuliah sepeninggal kedua orang tua saya”.

“Beruntunglah kita yang hidup di lereng gunung semeru, tanahnya subur berlapis humus tebal yang senantiasa terjaga oleh erupsi berkala, mata airnya jernih dan berlimpah, bentang alamnya sangat kaya, sesuai untuk dibudidayakan tanaman apasaja”, lalu pernahkah kita membayangkan akan hidup disebuah daerah asing nan tandus, nun jauh diseberang sana ?

“Bagi saya yang sarjana pertanian, tugas dan tantangan berat masih menanti, di lembah pengharapan, disebuah daerah kering kerontang yang jarang tersentuh oleh manusia, saya harus berjuang menjadikannya bisa diusahakan untuk tanaman pertanian yang lebih produktif.

“Transmigrasi, maksudnya”, tanyaku memastikan

Mas lukman hanya mengangguk seolah membenarkan dugaanku.

“Kapan berangkat ?!?!”…tanyaku lagi. Entahlah sayapun masih belum tahu, kapan tanggalnya masih belum pasti, sewaktu – waktu saya bisa saja meninggalkan tempat ini. “Kalimat terakhirnya begitu menyentuh dihati, terbayang sebuah perpisahan dengan orang yang selama ini berusaha keras mengobar-ngobarkan semangat kami yang nyaris padam.

Kuingat saat kebersamaan kami yang terakhir mas lukman sempat menyelipkan secarik kertas yang syukurlah masih terselip di dinding gubuk, kubuka dan perlahan kubaca.

“Binar – binar wajah berhiaskan senyum yang indah ternyata bukan semata milik mereka orang – orang kaya yang hidupnya bergelimang harta dan kesehariannya serba ada, meski miskin rupiah kita tetap berhak menikmati indahnya dunia yang juga milik kita. Jangan pernah merasa miskin hingga harus setengah hati ketika mensyukuri kuasa ilahi, sesungguhnya pada setiap diri kita tersimpan kekayaan yang tak nampak , sebuah bakat, potensi dan kelebihan tak terkatakan yang bisa jadi saat ini tidak dimiliki oleh orang lain”.

Mas Lukman telah meninggalkan butiran-butiran semangat yang bermekaran dalam jiwa kami, semangat untuk terus berjuang “memetik” mimpi dan menjadikannya nyata, indah dan membumi….Wallahu A’lam (By Gaffas)

“Mimpi adalah kunci”

“Untuk kita menaklukkan dunia”

“Berlarilah tanpa lelah”

“Sampai engkau meraihnya”

(Kutipan bait pertama Syair Lagu Laskar Pelangi – Nidji)





Pria Plontos Berkalung Sumpritan

5 02 2009
https://i2.wp.com/nottinghamrugbyshop.co.uk/catalog/images/whistle.jpg

Fajar berpendar menyingkap kelambu malam, berganti pagi yang datang dengan menebar energi, sebuah pergiliran yang senantiasa dipenuhi keajaiban.

Rutinitas pagi yang menyenangkan adalah saat mengantarkan anak-anak dan keponakan bersekolah, berkendara motor bersuara helikopter kami melintasi tiga arah yang berbeda. Ke Selatan menuju YASPI Al Firdaus berbalik ke utara ke SD Tempeh Tengah 03 dan seterusnya ke utara menuju MI Tempeh Lor. Ada juga yang menyarankan “abonemen becak saja seperti kebanyakan anak – anak di perumahan”, bener juga sih tapi melepaskan sebuah kebiasaan ternyata juga tidak ringan, ada sesuatu yang “serasa” hilang. Ya Biarlah tak mengapa meski disebut “tuan tanah” atau dalam sinema india disebut tuan thakur, sebuah julukan plesetan bagi orang-orang yang menghabiskan waktu untuk mondar-mandir seolah nyaris tak pernah berhenti mengukur jalanan.

Diantara jalanan yang kami lewati Tugu pancasila masih menjadi titik utama kemacetan di pagi hari, wajar jika selalu ada seorang hingga dua orang polisi yang disiagakan bertugas disana

Yang menarik pada bulan-bulan belakangan ini di pertigaan tugu pancasila selalu ada bang ali yang hampir tak pernah absen, berdiri di tengah jalan mengatur lalu lalang kendaraan.

“Hop-hop-hop”, mandek dhisik dulur….nek tibo loro…soro dulur

Setelah menoleh kanan kiri sebentar Bang ali kemudian memberikan aba-aba “Ayooo….Ayooo….Monggo dulur….” Diiringi hentakan sarung ditangannya atau terkadang menggunakan kibasan ranting pohon.

Disaat jam-jam padat kendaraan tentu saja selain menarik perhatian pengguna jalan keberadaan bang ali sangat membantu, polisi yang bertugas praktis lebih banyak berdiri manis sambil sesekali memainkan HT. Beberapa bulan berlalu hingga tanpa disadari bang ali telah menjadi sebuah icon yang kini identik dengan tugu pancasila di kala pagi.

Dengan gaya yang khas bertelanjang kaki, bertelanjang dada dan menggenggam seruas ranting pohon tak bisa dihindari jika sebagian orang justru menilai miring sosok bang ali.

“Entah, Mengapa citra negatif masih saja dilekatkan pada diri bang ali ?!?!”, atas tindakan positif yang nyata-nyata diperbuatnya.

Dulunya Bang ali adalah penarik dokar handal, “Seorang yang saya kenal tidak pernah ragu menganggap semua orang “dulur”, Kebiasaannya adalah menyapa siapa saja yang dikenalnya “Assalamu’alaikum dulur…sik dulur nyambut nggawe sik…dungakno selamet dulur…” dengan nada suara dan gayanya yang khas.

Kadang ditengah asyik bermain bersama teman-teman kami sesekali melihat jalanan menunggu dokar bang ali melintas sekedar untuk mendengar sapaan khasnya yang mungkin lebih berkarakter dibanding “apaan tuh…nya bang jaja miharja” atau lebih unik dan orisinil dibandingkan salam “uhuy-nya si komeng”. Jika kebetulan dokar tengah kosong kami bisa ikut naik gratis sampai di tengah pasar.

Suatu saat saya mendengar berita bang ali hilang terbawa ombak besar pantai selatan, beberapa hari lamanya hingga ditemukan terhempas selamat di bibir pantai, ternyata saat berada dalam gulungan-gulungan ombak bang ali mencoba berteriak sekeras-kerasnya namun seolah membentur dinding tebal kedap suara, namun ketika dia melafazkan adzan tiba-tiba suaranya seolah tembus dan tiba-tiba gulungan-gulungan ombak kian besar menghentakkannya dengan keras hingga terdampar di pinggir pantai.

Sejak itulah bang ali jadi berbeda, namun bagi saya tidak ada yang berbeda darinya kecuali gaya dan tingkah lakunya yang nyentrik…

Demikianlah, Semula anak-anak memahami bang ali sebatas seorang Pria Plontos Berperilaku agak aneh, bertelanjang dada dan berkalung sumpritan, tapi melihat keberadaan polisi yang lebih banyak “berdiri mematung” dan kadangkala absen tidak bertugas maka perlahan anak-anak bisa dipahamkan betapa bang ali yang mengambil alih tugas polisi sesungguhnya adalah juga polisi “dalam tanda kutip”

lihatlah Bang Ali yang tidak seharipun absen”, ditengah panas terik atau dibawah guyuran hujan sekalipun.

meski bertelanjang dada dan tak beralas kaki bang ali tetap aktif bertugas” cobalah bandingkan dengan polisi yang berseragam yang kini makin sering absen terlebih saat musim hujan.

“Mungkin saja baju seragamnya belum kering atau belum rapi disetrika, “Mungkin juga topi atau sepatu dinasnya masih basah”

Bang ali beda dengan mereka, dalam segala situasi bang ali seolah tak terganti.

Beberapa minggu belakangan, keponakan yang di YASPI Al Firdaus usai menerima raport pindah sekolah ke MI Tempeh Lor, sementara keponakan yang agak besar mulai membiasakan diri bersepeda ke sekolah. Jadilah predikat tuan thakur perlahan meluntur, sekarang kami hanya berkendara menuju ke satu arah.

Meski tak lagi melintasi tugu pancasila dan bertemu bang ali namun bayangan pria plontos berkalung sumpritan itu kerap datang terlebih disaat arus kendaraan memadat. Bang ali seolah senantiasa hadir memberi sebuah energi inspirasi, betapa pentingnya untuk berjuang agar menjadi “ada” dan “bermanfaat” bagi sesama. (by gaffas/feb’09)






Histeria Sang Pemburu Berita

5 02 2009
http://penerbitanbuku.files.wordpress.com/2008/06/notepadpencil1199.jpg

Sungguh tiada terbayangkan, didepan kedua mataku tertulis takdir kematian seorang anak manusia dengan begitu mengenaskan, tubuhnya terpental tepat dibawah sebuah truk gandeng penuh muatan pasir, ajalpun menyapa di tengah histeria para saksi mata yang hanya kuasa melafalzkan …”Inna Lillah…”

jalananpun seketika memerah dan histeria terasa menggema dibawah rerintikan hujan diantara penuh sesak orang- orang yang memadati lokasi kejadian. Mulutku jadi bergetaran tanpa sesuatupun yang mampu kuucapkan.

Di sepanjang jalan ke rumah tiada henti bayangan kejadian itu membekas datang dan pergi. Teringat aku pada kejadian dua tahun silam, kecelakaan yang nyaris sama pernah kualami yakni jatuh terpental dari motor dengan tubuh bergulingan menyapa kerasnya aspal . Cidera ringan yang kuderita saat itu ternyata samasekali belumlah sebanding dengan nilai sebuah kehidupan yang setidaknya masih bisa kurasakan hingga saat ini.

Kejadian kecelakaan maut batal lagi kuliput meski aku turut menjadi saksi mata kejadian tragis itu, bahkan kamera saku yang kubawa tak berfungsi apa –apa, hanya tanganku yang gemetaran yang masih sanggup memencet keypad dan meneruskan sebuah pesan singkat kepada seorang kawanku yang kebetulan sama – sama pemburu berita. Lagi – lagi aku batal meliput, terngiang serentetan kata-kata motivasi bang redaktur menyuntikkan semangat agar senantiasa tegar menjalani profesiku sebagai kuli tinta.

“Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan”, “Bila kamu belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bakatmu, bakatilah apapun pekerjaanmu saat ini hingga kau akan tampil secemerlang orang yang berbakat”.

Bang redaktur memang tak pernah kehabisan stok kata-kata penuh hikmah, dimejanya selalu tersedia buku tebal motivasi buah penanya sendiri. Bagiku dia sosok redaktur yang sangat brilliant yang memandang hidup ini dengan kacamata serba indah.

Tapi Mau bagaimana lagi, untuk saat ini jangankan meliput, melihat darah yang tertumpah saja aku tak kuasa.

Di tengah sergapan terik mentari, aku mengusap peluh dan berharap akan ada bahan berita yang kali ini bisa menggenapi tugas peliputanku.

Masih membekas jelas dalam ingatanku sewaktu dulu aku dan teman – teman kecilku beradu layang – layang di tengah pematang sawah yang usai di panen, saat itu bentuk layang – layang kami bermacam – macam ada yang berupa orang – orangan, berwujud sebuah pesawat sederhana dan ada juga yang menyerupai ikan besar yang berekor panjang.

Seorang pria berkamera mendekati kami, jepret sana dan jepret sini dan beberapa hari kemudian salah seorang temanku berlarian kegirangan dengan menenteng sebuah koran terbitan lokal yang memuat foto layang – layang kami. Betapa bangganya kami saat itu karena adu layang – layang kecil – kecilan dalam media itu ditampilkan dengan tajuk festival layang – layang terbang. Kami sama sekali belum bisa memahami jika telah menjadi obyek peliputan seorang kuli tinta yang cerdik dalam memanfaatkan setiap moment sebagai peluang berita.

Sebuah pesan masuk kuterima, seorang informan memberikanku sebuah alamat dan aku harus segera meluncur ke tempat itu. Seperempat jam mengukur jalanan akhirnya aku sampai di lokasi yang dimaksud. Bau tak sedap memenuhi tempat itu, maklum sebuah Tempat Pembuangan Akhir, Puluhan orang di tempat itu berbaur diantara para pemulung yang tengah memanjat bergunung – gunung sampah. Aku bertanya kepada salah seorang diantara mereka. “seorang bayi ditemukan di antara tumpukan kardus di tempat ini”, papar salah seorang diantara mereka dengan singkatnya.

kulihat seorang perempuan berpakaian lusuh menggendong bayi, kucoba mengambil gambarnya namun dengan bayi yang masih merah dalam gendongannya tiba – tiba ia mendekatiku dan berteriak histeris. “jauhkan wartawan itu dari tempat ini”, seraya tangannya menunjuk kearahku. Dengan berusaha bersikap tenang aku menjelaskan bahwa ini adalah panggilan profesi dan kupinta ia bersikap sewajarnya saja, wanita itu terus berteriak sambil mengatakan “aku hanya seorang pemulung, tak punya uang untuk diberikan kepada seorang wartawan”. Kerumunan orang di tempat itu berusaha menenangkan wanita itu namun akhirnya aku memilih pergi tanpa sebuah berita. Harapanku membuat liputan khusus pupus sudah, Batinku seketika merasa terpukul “sudah begitu rendahkah seorang kuli tinta hingga banyak yang menafsirkan profesi kami identik dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yang ujung – ujungnya amplop dan sogokan”. Padahal aku ingin membuat berita yang obyektif dan merangsang masyarakat agar peduli dengan masalah – masalah sosial khususnya yang menyangkut dekadensi moral generasi muda yang sangat mungkin melatarbelakangi semua itu.

Lagi – lagi aku pulang tanpa hasil …entah apa yang akan kukatakan kepada redakturku nanti, aku keras berpikir namun sama sekali tak ada ide.

Tiba – tiba terbersit ide untuk menuliskan kejadian itu apa adanya berikut gambar yang sempat terekam oleh kameraku. Judulnyapun tak kubuat – buat “Seorang pemulung menemukan bayi merah diantara tumpukan kardus”. Kutuliskan didalamnya bahwa salah seorang pemulung dengan begitu mulia bersedia merawat bayi malang itu, andai tak ada lagi bayi yang dibuang dan di sia-siakan tentunya pemulung hanya akan memunguti sampah dan bukannya memunguti nyawa seorang anak manusia yang tak berdosa.

Betapa senangnya redakturku dengan hasil liputanku kali ini. “ini baru berita”, pujinya seraya menyodorkan sebuah nota. Di meja bendahara nota itu kemudian berubah menjadi sebuah amplop yang kuterima dengan perasaan lega. Seberapa besar isi amplop tak lagi penting bagiku, rasa syukurku setelah pemuatan tulisanku itu tak bisa tergantikan oleh apapun juga.

Di depan meja kerjaku, kubolak – balik amplop itu tanpa kubuka isinya, berkali – kali aku menimbang nimbang amplop itu, terbayang hutang – hutangku di warung sebelah, sebenarnya tak banyak namun berapapun jumlahnya hutang tetap saja hutang yang mesti dilunasi biar tidak menjadi beban di kemudian hari, terngiang – ngiang jelas di telingaku histeria wanita pemulung itu, seakan – akan jari jemari wanita itu masih saja menunjuk kearahku. Kukeluarkan motorku dan tujuanku hanya satu yakni ke Tempat pembuangan akhir sampah dan berharap menemukan wanita itu di sana.

Bau tak sedap sampah mulai menghinggapi hidungku, tak terasa akupun telah sampai. Kuhamburkan pandanganku di pegunungan sampah yang makin lama makin meninggi namun tak kulihat wanita itu disana, namun ada salah seorang pemulung yang tiba – tiba menunjuk ke sebuah arah, seketika pandanganku menubruk sebuah tumpukan kardus. Akupun berjalan mendekat dan kulihat wanita pemulung itu tengah menyusui bayi merah itu layaknya anak kandungnya. Wanita itu terperanjat melihat kehadiranku lagi di tempat itu namun dia berusaha tenang mengingat bayinya yang tertidur lelap. Kuraih ampop dari balik saku jaketku dan meninggalkannya di dekat bayi merah itu. Wanita itu hanya memandangiku tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya dan akupun segera berlalu dari tempat itu.

Memang naluri tiada pilih kasih, pemulung atau apapaun profesinya seorang ibu tetaplah seorang ibu, ditengah tumpukan sampah yang tak sedap dan tak layak huni, wanita pemulung itu berusaha memberikan tempat yang nyaman bagi anak ‘barunya’ meski hanya sebatas dari potongan – potongan kardus.

Naluri memang tetaplah naluri, di tengah histeria yang kurasakan naluriku sebagai kuli tinta makin menebal.

Menurut si mbak warung sebelah rumahku, bang redaktur beberapa kali datang mencariku, dan bang redaktur juga telah melunasi hutangku di warung. Saat akhirnya aku bertemu lagi dengan bang redaktur dia hanya tersenyum sambil berkata “Kuharap kreatifitas ini tak berhenti sampai disini”. (By Gaffas)